Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang beragama Muslim terbanyak di dunia, mencapai hingga lebih dari 80% dari total jumlah penduduk Indonesia lho! Busana Muslim khususnya bagi wanita, dulu hanya terkesan itu-itu saja dan monoton. Namun sekarang seiring berkembangnya teknologi, fashion hijabers dan modest mulai semakin kreatif, unik dan modern. Seperti program dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang sudah dua tahun ini menggelar Modest Fashion Project (MOFP) untuk mengembangkan kreatifitas desainer muda Indonesia untuk bisa mengembangkan industri fashion Muslim.
Nah, baru-baru ini MOFP 2019 digelar di F1 dan F3 Atrium fX Sudirman. Tepatnya tanggal 12-16 November 2019, kalian bisa menikmati dan melihat beberapa desainer muda berbakat yang menjadi finalis di MOFP memamerkan karyanya dalam krasi fashion Muslim modern.
Kebetulan, kemarin aku hadir di pembukaan acara MOFP ini dan aku melihat banyak sekali karya yang unik dan punya ciri khas dan tetap terlihat anggun. Dalam acara ini, hadir Ibu Gati Wibawaningsih selaku Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.
Ibu Gati mengatakan bahwa program ini merupakan dukungan dari pemerintah untuk industri kecil dan menengah terutama di bidang fashion dimana banyak wirausaha baru dalam bisang fashion Muslim yang mandiri dan punya daya saing. Sebelum beberapa finalis terpilih untuk memamerkan karyanya di MOFP ini, sebelumnya sudah diadakan seleksi melalui kompetisi desain dan konsep bisnis yang diikuti oleh lebih dari 300 peserta dari perancang busana Muslim dengan range usia anatara 19 hingga 25 tahun.
Anak muda Indonesia yang membanggakan dan berbakat! Dari sini terpilihlah 20 orang finalis terbaik untuk mendapatkan pelatihan dan diberikan ijin usaha, Hak Kekayaan Intelektual serta akses pasar.
Kebetulan saat aku hadir, aku melihat trunk show dari 6 finalis yaitu Cita Qhurbani, Yuafni, Dita Dwi Nitami, Arjun Doan Putra, Astika Aquilla, dan Dhiya Fajri Sadida.
Melihat model fashion Muslim masa kini dengan ciri khas masing-masing desainer nya. Ternyata, busana Muslim bisa dibuat menjadi berbagai model yang unik dan tidak lagi monoton. Ada yang bisa dipakai saat santai, semi formal hingga pesta. Keren kan hasil karya anak bangsa. Oh iya, dan ini semua menggunakan kain produksi dalam negeri lho!
Pada acara ini hadir juga Mario Ginanjar salah satu personil Kahitna untuk menghibur undangan yang hadir.
Industri fashion di Indonesia juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, bahkan banyak desainer dari luar negeri juga turut memuji kain batik dan tenun dari Indonesia. Kinerja ekspor prosuk fashion hingga September 2019 tercatat senilai 9,2 miliar dolar AS yang mempunyai kontribusi sebesar 9,8% terhadap total ekspor industri pengolahan.
Oleh sebab inilah Kemenperin juga akan mengadakan Indonesia Industrial Moslem Exhibition 2020 (ii-motion). ii-motion merupakan pameran yang akan menampilkan hasil industri Indonesia dengan halal lifestyle nya dengan meliputi komoditi fashion, kosmetik lokal, perhiasan khas daerah Indoneisa, serta minuman kopi hasil kebun Indonesia yang dikenal dunia dan juga platform digital yang mendukung industri halal dan ekonomi syariah.
Dengan adanya hal tersebut, Kemenperin mengharapkan di tahun 2020 nanti Indonesia bisa menjadi pusat fashion Muslim dunia dan bisa terus meningkat dari segi kemampuan desainernya, bahan serta penjualan ekspor nya.
The State of Global Islamic Economic menyatakan bahwa saat ini Indonesia sudah menjadi negara dengan pertumbuhan industri fashion Muslim terbesar kedua setelah Uni Emirat Arab. Ini tentunya sebuah prestasi yang baik dan patut kita pertahankan, bukan?
Nah, untuk kalsian pecinta fashion Muslim wajib nih hadir di Modest Fashion Project (MOFP) yang digelar di fX Sudirman hingga tanggal 16 November 2019 nanti. Akan ada trunk show dari 20 finalis, talkshow, makeup demo, kosmetik day serta grand final dan penyerahan penghargaan pemenang Kompetisi MOFP 2019 dan Kompetisi Kosmetik bagi startup IKM kosmetik. Jangan sampai ketinggalan yah..
Showing posts with label kemenperin. Show all posts
Showing posts with label kemenperin. Show all posts
Wednesday, 13 November 2019
Friday, 28 December 2018
Dukungan Pemerintah Untuk Penyandang Difabel Di Sektor Industri
Pernahkah kalian membayangkan hidup sebagai penyandang disabititas atau kelompok difabel? Banyak sekali keterbatasan yang mereka miliki, sehingga sudah seharusnya pemerintah mulai memperhatikan akses bagi mereka. Kendala terbesar mereka tentunya adalah bersaing di dunia kerja baik secara formal maupun informal. Rata-rata kaum difabel memiliki standar pendidikan yang relatif rendah dan hanya bisa menjadi pekerja di sektor informal tanpa memiliki peluang usaha untuk bisa masuk dalam jenjang karir.
Siapa yang sangka, di foto ini aku sedang duduk bersama para tuna wicara dan tuna rungu yang baru saja menampilkan aksi bermain alat musik angkung di depan Bapak Meteri Sosial dan Menteri Perindustrian. Dari sini aku juga semakin kagum dengan para penyandang difabel yang justru mereka sadar betul akan keterbatasannya dan ingin punya kesempatan yang sama seperti kita yang terlahir normal.
Diketahui data saat ini jumlah penyandang difabel di Indonesia mencapai angka 8% dari total populasi negara Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 22 juta jiwa. Dan 70% kaum difabel masih memiliki pendidikan yang rendah bahkan menganggur. Bukankah ini jumlah angka yang cukup besar dan bisa memberikan dampak sosial dan ekomoni bagi masyarakat dan pemerintah.
Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial membuat Nota Kesepahaman antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial tentang Pelatihan, Sertifikasi, dan Penempatan Kerja bagi Penyandang Disabilitas. Hal ini menjadi sebuah batu loncatan besar bagi para penyandang disabilitas dan kelompok difabel untuk bisa memiliki serifikasi pendidikan yang layak untuk bisa bekerja baik dalam sektor formal maupun informal.
Saat ini kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian dunia rata-rata sekitar 17% Kita patut berbangga, karena Indonesia merupakan salah satu dari 5 negara yang menymbang besar dalam industri manufaktur sebesar 20,5% bersama dengan 4 negara lainnya yaitu China sebesar 28,8% Korea Selatan sebesar 27% Jepang sebear 21% dan Jerman 20,6%.
Dalam kaitannya untuk mendorong pertumbuhan industri, ada 3 pilar penting yang harus diperhatikan yaitu modal/investasi, teknologi dan sumber saya manusia.
Berbicara mengenai sumber daya manusia, Kementerian Perindustrian memiliki program Diklat 3 in 1 untuk pelatihan dan sertifikasi kompetensi berdasarkan SKKNI. Nantinya diharapkan setelah melalui proses pelatihan dan sertifikasi tersebut, peserta bisa masuk dalam dunia kerja.
Tahun 2019 ini diharapkan Diklat 3 in 1 bisa mencapai peserta hingga 72.000 orang termasuk para penyandang difabel untuk bisa mengikuti pelatihan ini. Seperti undang-undang yang sudag disahkan oleh Presiden Jokowi bahwa setidaknya perusahaan di Indonesia wajib memperkerjakan kaum difabel sebayang 1-2% dari total karyawan.
Beberapa perusahaan dan pabrik manufaktur seperti industri tekstil dan alas kaki sudah mulai mempekerjakan para pekerja dari golongan difabel. Bahkan saat ini sudah ada 12 perusahaan industri yaitu 7 industri alas kaki dan 5 industri tekstil sudah bersedia menerima para pekerja difabel dari lulusan Diklat 3 in 1 tersebut.
Kementerian Perindustrian akan menggandeng Kementerian Sosial untuk memberikan pendekatan bagi komunitas kaum difabel untuk bisa semakin percaya diri untuk terjun dalam dunia kerja sektor formal dan informal melalui proses pelatihan dan sertifikasi kerja bersama program Diklat 3 in 1 ini. Begitulah tujuan ditandatangani nya Nota Kesepahaman antara kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial ini.
Di akhir acara, pihak Kementerian Sosial dan Kementerian Perindustrian saling bertukar cinderamata sebagi tanda kerjasama kedua belah pihak untuk masyarakat Indonesia yang lebih maju terutama para penyandang difabel.
Sebelum pulang, kami disuguhi performance angklung dari teman-teman tuna wicara dan tuna rungu dari Disabilitas Rungu Wicara Melati Jakarta.
Di bagian depang Ruang Garuda Kementerian Perindustrian, tempat kami menghadiri acara ini, sudah digelar beberapa booth penjualan cinderamata, snack dan kerajinan tangan buatan para penyandang difabel. kebetulan aku hadir bersama Deston, dan aku sempat memberitahu anakku bahwa semua barang yang dijual disini dibuat langsung oleh anak-anak difabel. Dan Deston langsung ingin membeli sebuah boneka kura-kura, katanya "mami beli ini ya, aku suka boneka kura-kura, lagian kita kan bisa bantu mereka juga"
Ini dia boneka kura-kura yang dibeli Deston.
Semoga kedepannya para difabel bisa lebih maju, apalagi Nota Kesepahaman tentang Pelatihan, Sertifikasi dan Penempatan Kerja Bagi Penyandang Disabilitas ini dipersembahkan oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial sebagai kado tahun baru untuk penyandang difabel.
Dalam kaitannya untuk mendorong pertumbuhan industri, ada 3 pilar penting yang harus diperhatikan yaitu modal/investasi, teknologi dan sumber saya manusia.
Berbicara mengenai sumber daya manusia, Kementerian Perindustrian memiliki program Diklat 3 in 1 untuk pelatihan dan sertifikasi kompetensi berdasarkan SKKNI. Nantinya diharapkan setelah melalui proses pelatihan dan sertifikasi tersebut, peserta bisa masuk dalam dunia kerja.
Tahun 2019 ini diharapkan Diklat 3 in 1 bisa mencapai peserta hingga 72.000 orang termasuk para penyandang difabel untuk bisa mengikuti pelatihan ini. Seperti undang-undang yang sudag disahkan oleh Presiden Jokowi bahwa setidaknya perusahaan di Indonesia wajib memperkerjakan kaum difabel sebayang 1-2% dari total karyawan.
Beberapa perusahaan dan pabrik manufaktur seperti industri tekstil dan alas kaki sudah mulai mempekerjakan para pekerja dari golongan difabel. Bahkan saat ini sudah ada 12 perusahaan industri yaitu 7 industri alas kaki dan 5 industri tekstil sudah bersedia menerima para pekerja difabel dari lulusan Diklat 3 in 1 tersebut.
Kementerian Perindustrian akan menggandeng Kementerian Sosial untuk memberikan pendekatan bagi komunitas kaum difabel untuk bisa semakin percaya diri untuk terjun dalam dunia kerja sektor formal dan informal melalui proses pelatihan dan sertifikasi kerja bersama program Diklat 3 in 1 ini. Begitulah tujuan ditandatangani nya Nota Kesepahaman antara kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial ini.
Di akhir acara, pihak Kementerian Sosial dan Kementerian Perindustrian saling bertukar cinderamata sebagi tanda kerjasama kedua belah pihak untuk masyarakat Indonesia yang lebih maju terutama para penyandang difabel.
Sebelum pulang, kami disuguhi performance angklung dari teman-teman tuna wicara dan tuna rungu dari Disabilitas Rungu Wicara Melati Jakarta.
Di bagian depang Ruang Garuda Kementerian Perindustrian, tempat kami menghadiri acara ini, sudah digelar beberapa booth penjualan cinderamata, snack dan kerajinan tangan buatan para penyandang difabel. kebetulan aku hadir bersama Deston, dan aku sempat memberitahu anakku bahwa semua barang yang dijual disini dibuat langsung oleh anak-anak difabel. Dan Deston langsung ingin membeli sebuah boneka kura-kura, katanya "mami beli ini ya, aku suka boneka kura-kura, lagian kita kan bisa bantu mereka juga"
Ini dia boneka kura-kura yang dibeli Deston.
Semoga kedepannya para difabel bisa lebih maju, apalagi Nota Kesepahaman tentang Pelatihan, Sertifikasi dan Penempatan Kerja Bagi Penyandang Disabilitas ini dipersembahkan oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial sebagai kado tahun baru untuk penyandang difabel.
Kementerian Perindustrian
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)
















